RSS

Category Archives: Kuliah

Bilangan Biner

Sebagai contoh dari bilangan desimal, untuk angka 157:

157(10) = (1 x 100) + (5 x 10) + (7 x 1)

Perhatikan! bilangan desimal ini sering juga disebut basis 10. Hal ini dikarenakan perpangkatan 10 yang didapat dari 100, 101, 102, dst.

Mengenal Konsep Bilangan Biner dan Desimal

Perbedaan mendasar dari metoda biner dan desimal adalah berkenaan dengan basis. Jika desimal berbasis 10 (X10) berpangkatkan 10x, maka untuk bilangan biner berbasiskan 2 (X2) menggunakan perpangkatan 2x. Sederhananya perhatikan contoh di bawah ini!

Untuk Desimal:

14(10) = (1 x 101) + (4 x 100)

= 10 + 4

= 14

Untuk Biner:

1110(2) = (1 x 23) + (1 x 22) + (1 x 21) + (0 x 20)

= 8 + 4 + 2 + 0

= 14

Bentuk umum dari bilangan biner dan bilangan desimal adalah :

Biner

1

1

1

1

1

1

1

1

11111111

Desimal

128

64

32

16

8

4

2

1

255

Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Sekarang kita balik lagi ke contoh soal di atas! Darimana kita dapatkan angka desimal 14(10) menjadi angka biner 1110(2)?

Mari kita lihat lagi pada bentuk umumnya!

Biner

0

0

0

0

1

1

1

0

00001110

Desimal

0

0

0

0

8

4

2

0

14

                       Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Mari kita telusuri perlahan-lahan!

  • Pertama sekali, kita jumlahkan angka pada desimal sehingga menjadi 14. anda lihat angka-angka yang menghasilkan angka 14 adalah 8, 4, dan 2!
  • Untuk angka-angka yang membentuk angka 14 (lihat angka yang diarsir), diberi tanda biner “1”, selebihnya diberi tanda “0”.
  • Sehingga kalau dibaca dari kanan, angka desimal 14 akan menjadi 00001110 (terkadang dibaca 1110) pada angka biner nya.

Mengubah Angka Biner ke Desimal

Perhatikan contoh!

1. 11001101(2)

Biner

1

1

0

0

1

1

0

1

11001101

Desimal

128

64

0

0

8

4

0

1

205

Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Note:

  • Angka desimal 205 didapat dari penjumlahan angka yang di arsir (128+64+8+4+1)
  • Setiap biner yang bertanda “1” akan dihitung, sementara biner yang bertanda “0” tidak dihitung, alias “0” juga.

2. 00111100(2)

Biner

0

0

1

1

1

1

0

0

00111100

0

0

0

32

16

8

4

0

0

60

Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Mengubah Angka Desimal ke Biner

Untuk mengubah angka desimal menjadi angka biner digunakan metode pembagian dengan angka 2 sambil memperhatikan sisanya.

Perhatikan contohnya!

1. 205(10)

205   : 2     = 102 sisa 1

102   : 2     = 51 sisa 0

51     : 2     = 25 sisa 1

25     : 2     = 12 sisa 1

12     : 2     = 6    sisa 0

6       : 2     = 3    sisa 0

3       : 2     = 1    sisa 1

1  à sebagai sisa akhir “1”

Note:

Untuk menuliskan notasi binernya, pembacaan dilakukan dari bawah yang berarti 11001101(2)

2. 60(10)

60     : 2     = 30 sisa 0

30     : 2     = 15 sisa 0

15     : 2     = 7    sisa 1

7       : 2     = 3    sisa 1

3       : 2     = 1    sisa 1

1   à sebagai sisa akhir “1”

Note:

Dibaca dari bawah menjadi 111100(2) atau lazimnya dituliskan dengan 00111100(2). Ingat bentuk umumnnya mengacu untuk 8 digit! Kalau 111100 (ini 6 digit) menjadi 00111100 (ini sudah 8 digit). 

Aritmatika Biner

Pada bagian ini akan membahas penjumlahan dan pengurangan biner. Perkalian biner adalah pengulangan dari penjumlahan; dan juga akan membahas pengurangan biner berdasarkan ide atau gagasan komplemen.

Penjumlahan Biner

Penjumlahan biner tidak begitu beda jauh dengan penjumlahan desimal. Perhatikan contoh penjumlahan desimal antara 167 dan 235!

1    à 7 + 5 = 12, tulis “2” di bawah dan angkat “1” ke atas!

167

235

—- +

402

Seperti bilangan desimal, bilangan biner juga dijumlahkan dengan cara yang sama. Pertama-tama yang harus dicermati adalah aturan pasangan digit biner berikut:

0 + 0 = 0

0 + 1 = 1

1 + 1 = 0   à dan menyimpan 1 

sebagai catatan bahwa jumlah dua yang terakhir adalah :

1 + 1 + 1 = 1   à dengan menyimpan 1

Dengan hanya menggunakan penjumlahan-penjumlahan di atas, kita dapat melakukan penjumlahan biner seperti ditunjukkan di bawah ini:

1 1111                 à “simpanan 1” ingat kembali aturan di atas!

01011011           à bilangan biner untuk 91

01001110           à bilangan biner untuk 78

———— +

10101001           à Jumlah dari 91 + 78 = 169

Silahkan pelajari aturan-aturan pasangan digit biner yang telah disebutkan di atas!

Contoh penjumlahan biner yang terdiri dari 5 bilangan!

11101          bilangan 1)

10110          bilangan 2)

1100           bilangan 3)

11011          bilangan 4)

1001           bilangan 5)

——– +

untuk menjumlahkannya, kita hitung berdasarkan aturan yang berlaku, dan untuk lebih mudahnya perhitungan dilakukan bertahap!

11101    bilangan 1)

10110    bilangan 2)

——- +

110011

1100    bilangan 3)

——- +

111111

11011    bilangan 4)

——- +

011010

1001    bilangan 5)

——- +

1100011     à Jumlah Akhir .

sekarang coba tentukan berapakah bilangan 1,2,3,4 dan 5! Apakah memang perhitungan di atas sudah benar?

Pengurangan Biner

Pengurangan bilangan desimal 73426 – 9185 akan menghasilkan:

73426        à lihat! Angka 7 dan angka 4 dikurangi dengan 1

9185        à digit desimal pengurang.

——— –

64241          à Hasil pengurangan akhir .

Bentuk Umum pengurangan :

0 – 0 = 0

1 – 0 = 0

1 – 1 = 0

0 – 1 = 1   à dengan meminjam ‘1’ dari digit disebelah kirinya!

Untuk pengurangan biner dapat dilakukan dengan cara yang sama. Coba perhatikan bentuk pengurangan berikut:

1111011    à desimal 123

101001    à desimal   41

——— –

1010010    à desimal 82

Pada contoh di atas tidak terjadi “konsep peminjaman”. Perhatikan contoh berikut!

0              à kolom ke-3 sudah menjadi ‘0’, sudah dipinjam!

111101        à desimal 61

10010        à desimal 18

———— –

101011        à Hasil pengurangan akhir 43 .

Pada soal yang kedua ini kita pinjam ‘1’ dari kolom 3, karena ada selisih 0-1 pada kolom ke-2. Lihat Bentuk Umum!

7999          à hasil pinjaman

800046

397261

——— –

402705

Sebagai contoh pengurangan bilangan biner 110001 – 1010 akan diperoleh hasil sebagai berikut:

1100101

1010

———- –

100111

Komplemen

Salah satu metoda yang dipergunakan dalam pengurangan pada komputer yang ditransformasikan menjadi penjumlahan dengan menggunakan minusradiks-komplemen satu atau komplemen radiks. Pertama-tama kita bahas komplemen di dalam sistem desimal, dimana komplemen-komplemen tersebut secara berurutan disebut dengan komplemen sembilan dan komplemen sepuluh (komplemen di dalam system biner disebut dengan komplemen satu dan komplemen dua). Sekarang yang paling penting adalah menanamkan prinsip ini:

“Komplemen sembilan dari bilangan desimal diperoleh dengan mengurangkan masing-masing digit desimal tersebut ke bilangan 9, sedangkan komplemen sepuluh adalah komplemen sembilan ditambah 1”

Lihat contoh nyatanya!

Bilangan Desimal                123     651     914

Komplemen Sembilan       876     348     085

Komplemen Sepuluh         877     349     086    à ditambah dengan 1!

Perhatikan hubungan diantara bilangan dan komplemennya adalah simetris. Jadi, dengan memperhatikan contoh di atas, komplemen 9 dari 123 adalah 876 dengan simple menjadikan jumlahnya = 9 ( 1+8=9, 2+7=9 , 3+6=9 )!

Sementara komplemen 10 didapat dengan menambahkan 1 pada komplemen 9, berarti 876+1=877!

Pengurangan desimal dapat dilaksanakan dengan penjumlahan komplemen sembilan plus satu, atau penjumlahan dari komplemen sepuluh!

893             893                      893

321             678 (komp. 9)        679 (komp. 10)

—- –            —- +                    —- +

572           1571                   1572

1

—- +

572  à angka 1 dihilangkan!

Analogi yang bisa diambil dari perhitungan komplemen di atas adalah, komplemen satu dari bilangan biner diperoleh dengan jalan mengurangkan masing-masing digit biner tersebut ke bilangan 1, atau dengan bahasa sederhananya mengubah masing-masing 0 menjadi 1 atau sebaliknya mengubah masing-masing 1 menjadi 0. Sedangkan komplemen dua adalah satu plus satu. Perhatikan Contoh .!

Bilangan Biner             110011      101010      011100

Komplemen Satu         001100      010101      100011

Komplemen Dua         001101      010110      100100

Pengurangan biner 110001 – 1010 akan kita telaah pada contoh di bawah ini!

110001                110001                110001

001010                110101                110110

——— –                ——— +               ——— +

100111                100111            1100111

dihilangkan!

Alasan teoritis mengapa cara komplemen ini dilakukan, dapat dijelaskan dengan memperhatikan sebuah speedometer mobil/motor dengan empat digit sedang membaca nol!

Sistem Oktal dan Heksa Desimal

Bilangan oktal adalah bilangan dasar 8, sedangkan bilangan heksadesimal atau sering disingkat menjadi heks. ini adalah bilangan berbasis 16. Karena oktal dan heks ini merupakan pangkat dari dua, maka mereka memiliki hubungan yang sangat erat. oktal dan heksadesimal berkaitan dengan prinsip biner!

1. Ubahlah bilangan oktal 63058 menjadi bilangan biner !

6       3       0       5                 à oktal

110   011   000   101             à biner

Note:

  • Masing-masing digit oktal diganti dengan ekivalens 3 bit (biner)
  • Untuk lebih jelasnya lihat tabel Digit Oktal di bawah!

2. Ubahlah bilangan heks 5D9316 menjadi bilangan biner !

heks   à biner

5       à 0101

D       à 1101

9       à 1001

3       à 0011

Note:

  • Jadi bilangan biner untuk heks 5D9316 adalah 0101110110010011
  • Untuk lebih jelasnya lihat tabel Digit Heksadesimal di bawah!

3. Ubahlah bilangan biner 1010100001101 menjadi bilangan oktal !

001   010   100   001   101             à biner

3       2       4       1       5                 à oktal

Note:

  • Kelompokkan bilangan biner yang bersangkutan menjadi 3-bit mulai dari kanan!

4. Ubahlah bilangan biner 101101011011001011 menjadi bilangan heks !

0010          1101          0110          1100          1011 à biner

2                 D                6                 C                B       à heks


Tabel Digit Oktal

Digit Oktal

Ekivalens 3-Bit

0

000

1

001

2

010

3

011

4

100

5

101

6

110

7

111

 Tabel Digit Heksadesimal

Digit Desimal

Ekivalens 4-Bit

0

0000

1

0001

2

0010

3

0011

4

0100

5

0101

6

0110

7

0111

8

1000

9

1001

A (10)

1010

B (11)

1011

C (12)

1100

D (13)

1101

E (14)

1110

F (15)

1111

 

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Kuliah

 

Jaringan Komputer

Jadi korban kuirikulum baru nih, aku mengulang mata kuliah Jaringan Telekomunikasi krn nilainya jelek, di Jartel harusnya belajar NGN (Next Generation Network) eh taunya pas masuk ketemu OSi Layer. :hammer:

sebenarnya aku masih belum ngerti kenapa jurusan teknik industri harus belajar OSI Layer, harus ngerti konsep IP addres, subnetting, dll.. arrgh pussing.. -____-”

IP address adalah alamat suatu host (contohnya PC), kalau kita analogikan PC adalah rumah, maka IP address adalah alamat rumah tersebut.

Kali ini kita cukup membahas mengenai IP versi 4, pada contoh di atas IP PC-1 di set 192.168.1.1 kalau kita pisah berdasarkan titiknya menjadi :

192.168.1.1

Setiap kolom berisi 8 bit, jadi jika dilihat dalam bit tiap kolom menjadi :

11000000. 10101000. 00000001. 00000001

Sekarang kolom 1 kita beri sebutan dengan octet 1, kolom 2 kita beri sebutan dengan octet 2, kolom 3 kita beri sebutan dengan octet 3, kolom 4 kita beri sebutan dengan octet 4.

Setiap kolom atau yang kita sebut dengan octet memiliki nilai minimum biner 00000000 kalau di konversi ke decimal menjadi 0 dan memiliki nilai maksimum 11111111 kalau di konversi ke decimal menjadi 255, jadi setiap kolom nilainya antara 0-255, tapi khusus untuk octet 1 tidak boleh diisi dengan nilai 0 dan 255.

Kita juga mengenal IP Public dan IP private, sederhananya IP public adalah adalah IP yang digunakan oleh internet sedangkan IP private tidak digunakan oleh internet.

  • Untuk kelas A IP private nya adalah 10.0.0.0 s/d 10.255.255.255
  • Untuk kelas B IP private nya adalah 172.16.0.0 s/d 172.32.255.255
  • Untuk kelas C IP private nya adalah 192.168.0.0 s/d 192.168.255.255

Itu alasannya kenapa kita sering menjumpai IP address untuk kleas C 192.168.x.x.

Untuk menentukan kapan kita menggunakan IP class A , B , atau C kita bisa memutuskan berdasarkan jumlah host dan jumlah jaringan yang akan kita buat.

Selanjutnya pada IP address memiliki aturan pengkelasan IP, adapun pengkelasan IP dibagi sebagai berikut:

CLASS

RANGE

keterangan

A

1.0.0.1     s/d 126.255.255.254 Mendukung hingga 16 juta host dengan 127 jaringan

B

128.1.0.1 s/d 191.255.255.254 Mendukung hingga 65 ribu host dengan 16 ribu jaringan

C

192.0.1.1 s/d 223.255.254.254 Mendukung hingga 254 host dengan 2 juta jaringan

D

224.0.0.0 s/d 239.255.255.255 Digunakan untuk grup multicast

E

240.0.0.0 s/d 254.255.255.254 Digunakan sebagai penelitian lanjut
 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2012 in Kuliah

 

Implementasi Softswitch dengan PSTN

Teknologi Softswitch pada dasarnya terletak pada jaringan IP. Konektivitas dengan jaringan PSTN dihubungkan melalui sejumlah gateway. Suatu gateway dapat berupa satu atau lebih peralatan  fisik untuk interworking ke media trafik dan signaling antara jaringan PSTN dan jaringan VoIP. Untuk dapat dihubungkan dengan jaringan SS7, harus ditentukan  STP mana yang akan dijadikan titik interworking dengan jaringan Softswitch. MGC akan diletakkan pada STP-JKT sebagai titik interworking-nya.

Untuk dapat mengimplementasi Softswitch ke jaringan telepon local diperlukan koneksi-koneksi sebagai berikut:

• Koneksi akses network PSTN, seperti line analog,DLC dan sirkuit digital yang menghubungkan PBX
• Koneksi akses network dengan teknologi packet voice seperti VoDSL
• Koneksi trunk network melalui fasilitas digital sirkuit
• Sentral trunk yang berhubungan dengan fasilitas jaringan pakett lainnya seperti VoIP dan / atau VoATM

Untuk dapat menggelar service melalui jaringan IP seperti halnya pada jaringan PSTN, diperlukan entitas-entitas baru seperti :

  1. Protokol, seperti Media Gateway Control Protocol (MGCP), Session Initiation Protocol (SIP).
  2. Entitas hardware, seperti Media Gateway (MG), Gatekeepers, Call Agent (CA), dan Media Gateway Controller (MGC).
  3. Link antara komponen softswitch dengan jaringan PSTN.
Teknologi Softswitch pada dasarnya terletak pada jaringan IP. Konektivitas dengan jaringan PSTN dihubungkan melalui sejumlah gateway. Suatu gateway dapat berupa satu atau lebih peralatan  fisik untuk interworking ke media trafik dan signaling antara jaringan PSTN dan jaringan VoIP. Untuk dapat dihubungkan dengan jaringan SS7, harus ditentukan  STP mana yang akan dijadikan titik interworking dengan jaringan Softswitch. MGC akan diletakkan pada STP-JKT sebagai titik interworking-nya.
 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2012 in Kuliah

 

Tags:

EVOLUSI SISTEM KOMUNIKASI WIRELESS

Sistem Komuniksi Wireless Generasi Pertama (1G)

Generasi pertama sistem komunikasi  wireless mulai dioperasikan di Indonesia awal tahun 1990-an dan dikenal dengan teknologi AMPS (Advanced Mobile Phone System) salah satu operatornya adalah PT Komselindo. AMPS digolongkan dalam generasi pertama teknologi telekomunikasi bergerak yang menggunakan teknologi analog dimana AMPS bekerja pada band frekuensi 800 Mhz dan menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access).

Dalam FDMA, user dibedakan berdasarkan frekuensi yang digunakan dimana setiap user menggunakan kanal sebesar 30 KHz. Ini berarti tidak boleh ada dua user yang menggunakan kanal yang sama baik dalam satu sel maupun sel tetangganya. Oleh karena itu AMPS akan membutuhkan alokasi frekuensi yang besar. Saat itu kita sudah memakai handphone tetapi masih dalam ukuran yang relatif besar dan baterai yang besar karena membutuhkan daya yang besar.

Sistem Komunikasi Wireless Generasi Kedua (2G)

Generasi kedua dasi sistem komuniksi wireless adalah sistem GSM (Global System for Mobile Communications). Sistem GSM mulai menggeser AMPS diawal tahun 1995, dimana PT Telkomsel dan PT Satelido (sekarang PT Indosat) menjasi dua operator pelopor teknologi GSM di Indonesia.

GSM menggunakan teknologi digital. Ada beberapa keunggulan menggunakan teknologi digital dibandingkan dengan analog, seperti:

  1. Kapasitas sistem yang besar,
  2. Sistem keamanan yang lebih baik dan,
  3. Layanan yang lebih beragam.

GSM menggunakan teknologi akses gabungan antara FDMA (Frequency Division Multiple Access) dan TDMA (Time Division Multiple Access) yang awalnya bekerja pada frekuensi 900 Mhz dan ini merupakan standard yang pelopori oleh ETSI (The European Telecommunication Standard Institute) dimana frekuensi yang digunakan dengan lebar pita 25 KHz Pada band frekuensi 900 Mhz. Pita frekuensi 25 KHz ini kemudian dibagi menjadi 124 carrier

frekuensi yang terdiri dari 200 KHz setiap carrier. Carrier frekuensi 200 KHz ini kemudian dibagi menjadi 8 time slot dimana setiap user akan melakukan dan menerima panggilan dalam satu time slot berdasarkan pengaturan waktu. Sekarang GSM bekerja pada dual band yaitu frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz.

Teknologi GSM sampai saat ini paling banyak digunakan di Dunia dan juga di Indonesia karena salah satu keunggulan dari GSM adalah kemampuan roaming yang luas sehingga dapat dipakai diberbagai Negara. Akibatnya mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Kecepatan akses data pada jaringan GSM sangat kecil yaitu sekitar 9.6 kbps karena pada awalnya hanya dirancang untuk penggunaan suara. Saat ini pelanggan GSM di Indonesia adalah sekitar 35 juta pelanggan.

CDMA (Code Division Multiple Access) merupakan standard yang dikeluarkan oleh Telecommunication Industry Association (TIA) yang menggunakan teknologi Direct Sequence Spread Spectrum(DSSS) dimana frekuensi radio 25 MHz pada band frekuensi 1800MHz dan dibagi dalam 42 kanal yang masing-masing kanal terdiri dari 30KHz. Kecepatan akes data yang bisa didapat dengan teknologi ini adalah sekitar 153.6 kbps.

Dalam CDMA, seluruh user menggunakan frekuensi yang sama dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, CDMA lebih efisien dibandingkan dengan metoda akses FDMA maupun TDMA. CDMA menggunakan kode tertentu untuk membedakan user yang satu dengan yang lain. Pada tahun 2002 teknologi CDMA mulai banyak digunakan di Indonesia. Teknologi CDMA 2000 1x adalah teknologi yang mangamai perkembangan yang baikdi Indonesia. Berarti baru diperkenalkan sekitar 7 tahun terlambat dibandingkan dengan GSM. GSM dan CDMA merupakan teknologi digital.

Sistem Komunikasi Wireless Generasi Kedua-Setengah (2.5G)

Pada awalanya akses data yang dipakai dalam GSM sangat kecil hanya sekitar 9.6 kbps karena memang tidak dimaksudkan untuk akses data kecepatan tinggi.Teknologi yang digunakan GSM dalam akses data pada awalnya adalah WAP (Wireless Application protocol) tetapi tidak mendapat sambutan yang baik dari pasar. Kemudian diperkenalkan teknologi GPRS (General Packet Data Radio Services) pertama sekali oleh PT Indosat Multi Media (IM3) pada tahun 2001 di Indonesia.

Secara teoritis kecepatan akses data yang dicapai dengan menggunakan GPRS adalah sebesar 115 Kbps dengan throughput yang didapat hanya 20 – 30 kbps. GPRS juga memungkinkan untuk dapat berkirim MMS (Mobile Multimedia Message) dan juga menikmati berita langusng dari Hand Phone secara real time. Pemakaian GPRS lebih ditujukan untuk akses internet yang lebih flexibel dimana saja, kapan saja, kita dapat melakukannya asalkan masih ada sinyal GPRS.

Sistem Komunikasi Wireless Generasi Ketiga (3G)

Generari ke-3 dari sistem komunikasi wireless dimulai dengan digunakannya teknologi akses CDMA oleh beberapa operator. Teknologi 3G didapatkan dari dua buah jalur teknologi telekomunikasi bergerak. Pertama adalah kelanjutan dari teknologi GSM/GPRS/EDGE yang dikenal dengan UMTS (Universal Mobile Telecommunication Service) dan yang kedua adalam merupakan kelanjutan dari teknologi CDMA (IS-95 atau CDMAOne).

UMTS (Universal Mobile Telecommunication Service) merupakan lanjutan teknologi dari GSM/GPRS/EDGE yang merupakan standard telekomunikasi generasi ketiga dimana salah satu tujuan utamanya adalah untuk memberikan kecepatan akses data yang lebih tinggi dibandingkan dengan GRPS dan EDGE. Kecepatan akese data yang bisa didapat dari UMTS adalah sebesar 384 kbps pada frekuensi 5KHz sedangkan kecepatan akses yang didapat dengan CDMA1x ED-DO Rel0 sebesar 2.4 Mbps pada frekuensi 1.25MHz dan CDMAx ED-DO relA sebesar 3.1Mbps pada frekuensi 1.25MHz yang merupakan kelanjutan dari teknologi CDMAOne.

Berbeda dengan GPRS dan EDGE yang merupakan overlay terhadap GSM, maka 3G sedikit berbeda dengan GSM dan cenderung sama dengan CDMA. 3G yang oleh ETSI disebut dengan UMTS (Universal Mobile Telecommunication Services) memilih teknik modulasi CDMA(wideband CDMA). Pada WCDMA digunakan frekuensi radio sebesar 5 Mhz pada band 1.900 Mhz (CdmaOne dan CDMA 2000 menggunakan spectrum frekuensi sebesar 1.25 MHz) dan menggunakan chip rate tiga kali lebih tinggi dari CDMA 2000 yaitu 3.84 Mcps (Mega Chip Per Second).

Secara teknik dalam jaringan UMTS terjadi pemisahan antara circuit switch (cs) dan packet switch (ps) pada link yang menghubungkan mobile equipment (handphone) dengan BTS (RNC) sedangkan pada GPRS dan CDMA 2000 1x tidak terjadi pemisahan melainkan masih menggunakan resource yang sama di air interface (link antara Mobile Equipment dengan BaseStation). HSPDA (Higth Speed Packet Downlink Access) merupakan kelanjutan dari UMTS dimana ini menggunakan frekuensi radio sebesar 5MHz dengan kecepatan mencapai 2Mbps.

Ada 5 operator telekomunikasi di Indonesia yang telah memiliki lisensi 3G (IMT 2000). Tiga diantara operator tersebut adalah operator yang telah memberikan layanan telekomunikasi generasi kedua (GSM) dan kedua setengah (GPRS). Jika operator tersebut akan mengimplementasikan teknologi UMTS maka ada penambahan perangkat seperti base station (Node B) dan RNC (Radio Network Controller) dan upgrade software.

Adapun yang harus di upgrade adalah pada radio akses karena GSM menggunakan metode akses TDMA dan FDMA dan menggunakan frekuensi radio 900KHz dan 1800 MHz sedangkan UMTS menggunakan metode akses WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) dengan frekuensi radio 5 MHz. oleh karena itu perlu penambahan radio access network control (RNC) dan juga perlu penambahan base station WCDMA (Node B) dan tentunya juga terminal harus diganti dan juga upgrade software pada MSC,SGSN dan GGSN.

Oleh karena itu untuk mengimplementasikan UMTS sebagai teknologi generasi ketiga membutuhkan biaya yang besar. Biaya tersebut diperuntukkan untuk membayar lisensi 3G kepada pemerintah, membayar lisensi 3G kepada vendor 3G, biaya penambahan Base Station/Node B, RNC (Radio Network Controller) dan biaya upgrade software pada MSC (Mobile Switching Centre), SGSN(Serving GPRS Support Node), GGSN(Gateway GPRS Support Node) dan jaringan lain.

Salah satu contoh layanan yang paling terkenal dalam 3G adalah video call dimana gambar dari teman kita bicara dapat dilihat dari handphone 3G kita. Layanan lain adalah , video conference, video streaming, baik untuk Live TV maupun video portal, Video Mail, PC to Mobile, serta Internet Browsing.

Sistem Komunikasi Wireless Generasi Ketiga Setengah dan Generasi Keempat (3.5G dan 4G)

Untuk meningkatkan kecepatan akses data yang tinggi dan full mobile maka standar IMT-2000 di tingkatkan lagi menjadi 10Mbps, 30Mbps dan 100Mbps yang semula hanya 2Mbps pada layanan 3G. Kecepatan akses tersebut didapat dengan mengguanakan teknologi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) dan Multi Carrier. Di Jepang layanan generasi keempat ini sudah di implementasikan. Di Indonesia sendiri teknologi generasi ke-4 ini sudah mulai diluncurkan dengan konsep dan nama Long Term Evolution oleh PT Telkomsel. PT Indosat sudah juga meluncurkan teknologi dengan kecepatan bisa sampai 42 Mbps.

 

 

 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2012 in Kuliah

 

Tags: