RSS

I promise

Mom, i know how you feel now, i promise, i’ll give you my best 🙂

Image

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2012 in Edisi Galau

 

Proses Site Acuisition dan Civil, Mechanical and Electrical

Koordinat:  7° 19′ 55.93″ S, 108° 13′ 30.26″ E. (TASIKMALAYA, JAWA BARAT)

PROSES SITE ACUISITION (SITAC)

No

Nama Proses

Aktivitas

Badan/Orang/

Lembaga Terkait

Tools/Alat Bantu

Perkiraan Waktu

Bukti Dokumen

1 Site Hunting Searching lokasi disertai dengan koordinat GPS, peta lokasi dan situasi lapangan TIM SITAC GPS Garmin, Peta, Data Fasilitas umum. 1-2 Minggu Koordinat yang didapat adalah 7° 19′ 55.93″ S, 108° 13′ 30.26″ E.

 

2 Technical Site Survey Report (TSSR) Penyusunan Technical Site Survey Report (TSSR) bagi pelanggan/stakeholder. Drive Test (DT), Technical Site, Pemerintah, Badan Pusat Statistik Tasikmalaya Data Jumlah penduduk lokasi/site, TEMS Investigation, Software DT 2G/3G. 2-4 Minggu Data Jumlah penduduk, Laporan data covering jaringan.
3 Negosiasi Melakukan negosiasi terhadap  Provider-Provider yang ingin membangun BTS menjadi Tower Bersama HRD perusahaan, Negosiator, dan , Public Relation Perusahaan Dokumen site/lokasi pembangunan BTS, Data covering jaringan, Data pelanggan. 2-3 Minggu Dokumen site/lokasi pembangunan BTS, Dokumen Kerjasama pembangunan Tower bersama.
4 Akuisisi Melakukan Akuisisi lahan site  dan pembuatan akta tanah Notaris PPAT & NPAK Surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Surat Ijin kepemilikan tanah 1-2 bulan Dokumen Akta Tanah
5 IIjin Warga (Sosialisasi) Melakukan sosialisasi kepada warga sekitar untuk pembangunan Tower/BTS. Mediator, Kepala Desa, Camat, RW, RT, dan Warga, Public Relation Perusahaan Tempat pertemuan sosialisasi perusahaan dengan warga 1-2 Minggu Dokumen keputusan warga setempat terhadap pembangunan BTS/Tower.
6 Perijinan/pengurusan surat IMB (Izin Mendirikan Bangunan) Pengurusan surat-surat yang dibutuhkan dalam pendirian BTS. Notaris, Pemerintah setempat, Polisi Dokumen perizinan dari warga, Dokumen Akuisisi lahan. 2-3 Minggu IMB (Izin Mendirikan Bangunan)

 

PROSES CIVIL , MECHANICAL  DAN ELECTRICAL (CME)

No

Nama Proses

Aktivitas

Badan/Orang/

Lembaga Terkait

Tools/Alat Bantu

Perkiraan Waktu

Bukti Dokumen

1 Perencanaan Kebutuhan Peralatan Sasaran Pekerjaan yaitu pembangunan BTS, Pengecekan Kondisi Medan/Lapangan TIM Survey CME Dokumen site yang telah ditentukan, Dokumen Fasilitas dan Lokasi. 1-2 Minggu Dokumen Koordinat site, Dokumen Ijin Mendirikan Bangunan, Dokumen Akta Tanah
2 Pengadaan Peralatan Melakukan pengecekan alat-alat yang dibutuhkan dalam pendirian BTS

TIM Procurement, Civil Engineer

Data Alat berat, Data Tower

 

1-3 bulan (waktu paralel)

Dokumen peralatan dan Tenaga Kerja dalam Proyek

3 Infrastructure Building Pembangunan Infrastruktur BTS terhadap lokasi/site yang telah ditetapkan TIM CIVIL Engineer, Kontraktor, Tenaga Kerja Tower, Alat Berat, Warehouse/pengadaan barang, 1-2 Tahun (paralel) Koordinat site  7° 19′ 55.93″ S, 108° 13′ 30.26″ E,

 

4 Pelaksanaan Additional Equiment untuk Plant Melakukan pembuatan Power Supply/Daya/Listrik, Electrical Equiment (AC, Sensor Temperatur, Alarm, Grounding) dalam pendirian  BTS TIM Mechanical dan Electrical Trafo, Jalur Power dari PLN 4-6 bulan (paralel) Dokumen kontrak dengan pihak PLN
5 Maintenance/ Monitoring Melakukan Perawatan terhadap infrastruktur BTS TIM CME Analisis Report Signaling, Network Security 1-2  Tahun Dokumen Report Sinyal, Report Network Security.

.

 

 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2012 in Edisi Galau

 

TV analog dan TV digital

Selama bertahun-tahun kita hanya tahu bahwa TV menggunakan sinyal analog dan berbentuk tube atau tabung atau CRT (Cathode Ray Tube), yang mana sinyal tersebut menggunakan gelombang radio yang kemudian diterjemahkan menjadi suara dan gambar.

Dan pada beberapa jenis TV analog, gambar menjadi berkedip-kedip dengan kualitas gambar menjadi turun atau tidak jernih. Hal ini karena gambar-gambar analog yang menyatu karena pancaran elektron yang ditembakkan hanya setengahnya saja yang sampai ke layar TV dan TV analog hanya mampu menampilkan gambar dengan besaran resolusi  480 pixel saja sehingga gambar tidak mampu tertampil dalam TV berukuran besar.

Sekarang siaran TV yang mulai digunakan adalah Digital TV (DTV). DTV adalah transmisi sinyal yang menggunakan kode 01. Pada penyiaran on air, DTV dipancarkan menggunakan Ultra High Frequency (UHF) dengan spektrum radio mulai dari 6 MHz. Kualitas gambar sangat jernih meski dalam TV berukuran kecil. Resolusi DTV mencapai 704 pixel sehingga gambar tetap jernih meski tampil pada layar besar. Untuk video, karena dukungan resolusi yang tinggi, maka tampilan gambar per frame tidak akan menghasilkan kedipan. Beda dengan TV analog yang bila dipakai untuk video dan dipaksakan pada layar besar, gambar akan menjadi buram dan terputus-putus. DTV juga mendukung siaran HDTV.

Standar DTV memiliki aspek rasio 4:3 sedangkan HDTV 16:9 (seperti yang dimiliki layar bioskop). Resolusi HDTV bisa mencapai 1921×1080 pixel, dan yang terendah adalah 1280×720 pixel. Sedangkan pada DTV hanya mencapai 704×480 pixel saja. Artinya, jumlah pixel HDTV 10x lebih banyak daripada TV analog. Untuk frame rate, boleh dibilang sama. Namun perbedaan yang paling mencolok adalah TV analog tidak mampu menampilkan resolusi 1920×1080 pixel dengan kecepatan 60 fps.

Perbedaan TV Digital dan TV Analog

hanyalah perbedaan pada sistim tranmisi pancarannya, TV kebanyakan di Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara memodulasikannya langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim digital, data gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di pancarkan

Siaran TV Digital bukan saja selalu mengenai audio dan video tetapi juga data dan dengan TV Digital kita bisa mendapatkan berbagai macam informasi layaknya sebuah internet, berinteraksi serta bahkan bisa bermain game online melalui TV Digital. Setidaknya, hal-hal diatas adalah sebuah gambaran dari sebuah TV Digital

 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2012 in Edisi Galau

 

Jaringan Telekomunikasi Lanjut

  • 4G adalah singkatan dari istilah dalam bahasa Inggris: fourth-generation technology. Istilah ini umumnya digunakan mengacu kepada pengembangan teknologi telepon seluler. 4G merupakan pengembangan dari teknologi 3G. Nama resmi dari teknologi 4G ini menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah “3G and beyond”. Sistem 4G akan dapat menyediakan solusi IP yang komprehensif dimana suara, data, dan arus multimedia dapat sampai kepada pengguna kapan saja dan dimana saja, pada rata-rata data lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Belum ada definisi formal untuk 4G. Bagaimanapun, terdapat beberapa pendapat yang ditujukan untuk 4G, yakni: 4G akan merupakan sistem berbasis IP terintegrasi penuh. Ini akan dicapai setelah teknologi kabel dan nirkabel dapat dikonversikan dan mampu menghasilkan kecepatan 100Mb/detik dan 1Gb/detik baik dalam maupun luar ruang dengan kualitas premium dan keamanan tinggi. 4G akan menawarkan segala jenis layanan dengan harga yang terjangkau. Setiap handset 4G akan langsung mempunyai nomor IP v6 dilengkapi dengan kemampuan untuk berinteraksi internet telephony yang berbasis Session Initiation Protocol (SIP). Semua jenis radio transmisi seperti GSM, TDMA, EDGE, CDMA 2G, 2.5G akan dapat digunakan, dan dapat berintegrasi dengan mudah dengan radio yang di operasikan tanpa lisensi seperti IEEE 802.11 di frekuensi 2.4GHz & 5-5.8Ghz, bluetooth dan selular. Integrasi voice dan data dalam channel yang sama. Integrasi voice dan data aplikasi SIP-enabled
  • Narrowband adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan model lama kecepatan koneksi Internet yang biasa diasosiasikan dengan koneksi dial-up. Narrowband merupakan pita dengan saluran sempit. Dengan kemampuan kecil. Defenisi dari narrowband adalah saluran nirkabel, narrowband menunjukkan bahwa saluran yang digunakan cukup sempit dan respon frekuensi dapat dianggap datar.Narrowband juga dapat digunakan dengan audio spektrum untuk menggambarkan suara yang menempati rentang frekuensi yang cukup sempit.Dalam telepon , narrowband biasanya dianggap untuk menutup frekuensi 300-3400 Hz. Biasanya Narrowband mengacu pada situasi di komunikasi radio dimana bandwidth pesan tidak signifikan melebihi saluran coherence bandwidth. Ini adalah kesalahpahaman umum jika narrowband mengacu ke saluran yang menempati hanya “kecil” jumlah ruang pada spektrum radio.Contoh teknologi yang tergolong narrowband ini:
    1. T-1 pada 1,54 Mps melalui media fiber optik, infra merah, gelombang mikro atau dua pasang kabel
    2. Jalur telepon analog pada 3000 Hz, pada POTS (Plain Old Telephone Service), atau infrastruktur telepon biasa. Untuk memanfaatkan data digital pada teknologi ini ditambahkan perangkat modem, yang berfungsi untuk membawa data dari komputer digital

    BRI ISDN pada 144 kbps. Dua jalur untuk suara dan data, masing-masing pada 64 kbps. Satu jalur untk sinyal 16 kbps.

  • Wireless Access adalah suatu peranti yang memungkinkan peranti nirkabel untuk terhubung ke dalam jaringan dengan menggunakan Wi-Fi, Bluetooth, atau standar lain. WAP biasanya tersambung ke suatu router (melalui kabel) sehingga dapat meneruskan data antara berbagai peranti nirkabel (seperti komputer atau pencetak) dengan jaringan berkabel pada suatu jaringan. Standar yang diterapkan untuk WAP ditetapkan oleh IEEE dan sebagian besar menggunakan IEEE 802.11
  • WiBro (Wireless Broadband) adalah WiMAX versi Korea Selatan. Teknologi ini dikembangkan oleh para pelaku industri telekomunikasi negeri ginseng tersebut dengan mengadopsi standar IEEE 802.16e. Standar yang diproyeksikan sebagai mobile WiMAX. KT Corporation (Korea Telecom) dan SK Telecom adalah pionirnya dan telah memulai layanan teknologi ini di wilayah Seoul dan sekitarnya pada 30 Juni 2006.
  • Bandwidth Dividen adalah dengan teknologi digital membuat konsumsi lebar pita (bandwidth) menjadi lebih efisien karena penggunaan teknik kompresi pada sistem pemrosesan sinyalnya, sehingga yang pada awalnya 1 (satu) kanal frekuensi radio hanya dapat digunakan untuk menyalurkan 1 (satu) program siaran, dengan teknologi digital dapat digunakan untuk menyiarkan lebih dari 1 (satu) program siaran. Dengan adanya penghematan dalam konsumsi lebar pita (bandwidth) spektrum frekuensi radio, maka akan ada frekuensi radio yang kosong yang ditinggalkan oleh siaran TV analog yang beralih ke siaran TV digital. Fenomena ini disebut sebagai digital dividend, yang akan menjadi perkembangan yang sangat berharga bagi penerapan teknologi informasi dan komunikasi yang memanfaatkan frekuensi radio, termasuk juga di Indonesia. Digital dividend memiliki arti yang kurang lebih sama, yaitu sesuatu yang berharga yang bisa kita dapatkan untuk investasi pada digitalisasi sistem siaran, khususnya TV [20]. Sesuatu yang berharga tersebut adalah berupa spektrum frekuensi radio. Jadi, digital dividend adalah spektrum frekuensi radio yang tersedia bebas setelah adanya proses peralihan sistem siaran TV analogsecara penuh pada pita frekuensi UHF (Ultra High Frequency) [9]. Yang menjadikan spektrum frekuensi radio hasil dari digital dividend tersebut lebih berharga adalah frekuensi tersebut tersedia dalam rentang pita frekuensi radio 200 MHz s.d. 1 GHz, dimana merupakan pita spektrum frekuensi paling berharga yang merupakan optimasi antara kebutuhan cakupan (coverage) dan lebar pita (bandwidth) yang dibutuhkan. Pita frekuensi dalam rentang tersebut menawarkan keseimbangan antara kapasitas transmisi dan jarak jangkauan aplikasi.
    Dengan adanya digital dividend, spektrum frekuensi radio yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk siaran televisi digital atau aplikasi terestrial lainnya. Sehingga diharapkan dengan melakukan re-alokasi spektrum frekuensi radio secara adil dan seimbang dengan melihat kebutuhan industri siaran televisi dengan industri informasi dan komunikasi lainnya menjamin bahwa masyarakat mendapatkan manfaat sosial dan ekonomi yang maksimal dari digital dividend
 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2012 in Edisi Galau

 

Harapan dan Kenyataan

Kecewa adalah saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2012 in Edisi Galau

 

this long distance is killing me..

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Edisi Galau

 

Bilangan Biner

Sebagai contoh dari bilangan desimal, untuk angka 157:

157(10) = (1 x 100) + (5 x 10) + (7 x 1)

Perhatikan! bilangan desimal ini sering juga disebut basis 10. Hal ini dikarenakan perpangkatan 10 yang didapat dari 100, 101, 102, dst.

Mengenal Konsep Bilangan Biner dan Desimal

Perbedaan mendasar dari metoda biner dan desimal adalah berkenaan dengan basis. Jika desimal berbasis 10 (X10) berpangkatkan 10x, maka untuk bilangan biner berbasiskan 2 (X2) menggunakan perpangkatan 2x. Sederhananya perhatikan contoh di bawah ini!

Untuk Desimal:

14(10) = (1 x 101) + (4 x 100)

= 10 + 4

= 14

Untuk Biner:

1110(2) = (1 x 23) + (1 x 22) + (1 x 21) + (0 x 20)

= 8 + 4 + 2 + 0

= 14

Bentuk umum dari bilangan biner dan bilangan desimal adalah :

Biner

1

1

1

1

1

1

1

1

11111111

Desimal

128

64

32

16

8

4

2

1

255

Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Sekarang kita balik lagi ke contoh soal di atas! Darimana kita dapatkan angka desimal 14(10) menjadi angka biner 1110(2)?

Mari kita lihat lagi pada bentuk umumnya!

Biner

0

0

0

0

1

1

1

0

00001110

Desimal

0

0

0

0

8

4

2

0

14

                       Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Mari kita telusuri perlahan-lahan!

  • Pertama sekali, kita jumlahkan angka pada desimal sehingga menjadi 14. anda lihat angka-angka yang menghasilkan angka 14 adalah 8, 4, dan 2!
  • Untuk angka-angka yang membentuk angka 14 (lihat angka yang diarsir), diberi tanda biner “1”, selebihnya diberi tanda “0”.
  • Sehingga kalau dibaca dari kanan, angka desimal 14 akan menjadi 00001110 (terkadang dibaca 1110) pada angka biner nya.

Mengubah Angka Biner ke Desimal

Perhatikan contoh!

1. 11001101(2)

Biner

1

1

0

0

1

1

0

1

11001101

Desimal

128

64

0

0

8

4

0

1

205

Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Note:

  • Angka desimal 205 didapat dari penjumlahan angka yang di arsir (128+64+8+4+1)
  • Setiap biner yang bertanda “1” akan dihitung, sementara biner yang bertanda “0” tidak dihitung, alias “0” juga.

2. 00111100(2)

Biner

0

0

1

1

1

1

0

0

00111100

0

0

0

32

16

8

4

0

0

60

Pangkat

27

26

25

24

23

22

21

20

X1-7

Mengubah Angka Desimal ke Biner

Untuk mengubah angka desimal menjadi angka biner digunakan metode pembagian dengan angka 2 sambil memperhatikan sisanya.

Perhatikan contohnya!

1. 205(10)

205   : 2     = 102 sisa 1

102   : 2     = 51 sisa 0

51     : 2     = 25 sisa 1

25     : 2     = 12 sisa 1

12     : 2     = 6    sisa 0

6       : 2     = 3    sisa 0

3       : 2     = 1    sisa 1

1  à sebagai sisa akhir “1”

Note:

Untuk menuliskan notasi binernya, pembacaan dilakukan dari bawah yang berarti 11001101(2)

2. 60(10)

60     : 2     = 30 sisa 0

30     : 2     = 15 sisa 0

15     : 2     = 7    sisa 1

7       : 2     = 3    sisa 1

3       : 2     = 1    sisa 1

1   à sebagai sisa akhir “1”

Note:

Dibaca dari bawah menjadi 111100(2) atau lazimnya dituliskan dengan 00111100(2). Ingat bentuk umumnnya mengacu untuk 8 digit! Kalau 111100 (ini 6 digit) menjadi 00111100 (ini sudah 8 digit). 

Aritmatika Biner

Pada bagian ini akan membahas penjumlahan dan pengurangan biner. Perkalian biner adalah pengulangan dari penjumlahan; dan juga akan membahas pengurangan biner berdasarkan ide atau gagasan komplemen.

Penjumlahan Biner

Penjumlahan biner tidak begitu beda jauh dengan penjumlahan desimal. Perhatikan contoh penjumlahan desimal antara 167 dan 235!

1    à 7 + 5 = 12, tulis “2” di bawah dan angkat “1” ke atas!

167

235

—- +

402

Seperti bilangan desimal, bilangan biner juga dijumlahkan dengan cara yang sama. Pertama-tama yang harus dicermati adalah aturan pasangan digit biner berikut:

0 + 0 = 0

0 + 1 = 1

1 + 1 = 0   à dan menyimpan 1 

sebagai catatan bahwa jumlah dua yang terakhir adalah :

1 + 1 + 1 = 1   à dengan menyimpan 1

Dengan hanya menggunakan penjumlahan-penjumlahan di atas, kita dapat melakukan penjumlahan biner seperti ditunjukkan di bawah ini:

1 1111                 à “simpanan 1” ingat kembali aturan di atas!

01011011           à bilangan biner untuk 91

01001110           à bilangan biner untuk 78

———— +

10101001           à Jumlah dari 91 + 78 = 169

Silahkan pelajari aturan-aturan pasangan digit biner yang telah disebutkan di atas!

Contoh penjumlahan biner yang terdiri dari 5 bilangan!

11101          bilangan 1)

10110          bilangan 2)

1100           bilangan 3)

11011          bilangan 4)

1001           bilangan 5)

——– +

untuk menjumlahkannya, kita hitung berdasarkan aturan yang berlaku, dan untuk lebih mudahnya perhitungan dilakukan bertahap!

11101    bilangan 1)

10110    bilangan 2)

——- +

110011

1100    bilangan 3)

——- +

111111

11011    bilangan 4)

——- +

011010

1001    bilangan 5)

——- +

1100011     à Jumlah Akhir .

sekarang coba tentukan berapakah bilangan 1,2,3,4 dan 5! Apakah memang perhitungan di atas sudah benar?

Pengurangan Biner

Pengurangan bilangan desimal 73426 – 9185 akan menghasilkan:

73426        à lihat! Angka 7 dan angka 4 dikurangi dengan 1

9185        à digit desimal pengurang.

——— –

64241          à Hasil pengurangan akhir .

Bentuk Umum pengurangan :

0 – 0 = 0

1 – 0 = 0

1 – 1 = 0

0 – 1 = 1   à dengan meminjam ‘1’ dari digit disebelah kirinya!

Untuk pengurangan biner dapat dilakukan dengan cara yang sama. Coba perhatikan bentuk pengurangan berikut:

1111011    à desimal 123

101001    à desimal   41

——— –

1010010    à desimal 82

Pada contoh di atas tidak terjadi “konsep peminjaman”. Perhatikan contoh berikut!

0              à kolom ke-3 sudah menjadi ‘0’, sudah dipinjam!

111101        à desimal 61

10010        à desimal 18

———— –

101011        à Hasil pengurangan akhir 43 .

Pada soal yang kedua ini kita pinjam ‘1’ dari kolom 3, karena ada selisih 0-1 pada kolom ke-2. Lihat Bentuk Umum!

7999          à hasil pinjaman

800046

397261

——— –

402705

Sebagai contoh pengurangan bilangan biner 110001 – 1010 akan diperoleh hasil sebagai berikut:

1100101

1010

———- –

100111

Komplemen

Salah satu metoda yang dipergunakan dalam pengurangan pada komputer yang ditransformasikan menjadi penjumlahan dengan menggunakan minusradiks-komplemen satu atau komplemen radiks. Pertama-tama kita bahas komplemen di dalam sistem desimal, dimana komplemen-komplemen tersebut secara berurutan disebut dengan komplemen sembilan dan komplemen sepuluh (komplemen di dalam system biner disebut dengan komplemen satu dan komplemen dua). Sekarang yang paling penting adalah menanamkan prinsip ini:

“Komplemen sembilan dari bilangan desimal diperoleh dengan mengurangkan masing-masing digit desimal tersebut ke bilangan 9, sedangkan komplemen sepuluh adalah komplemen sembilan ditambah 1”

Lihat contoh nyatanya!

Bilangan Desimal                123     651     914

Komplemen Sembilan       876     348     085

Komplemen Sepuluh         877     349     086    à ditambah dengan 1!

Perhatikan hubungan diantara bilangan dan komplemennya adalah simetris. Jadi, dengan memperhatikan contoh di atas, komplemen 9 dari 123 adalah 876 dengan simple menjadikan jumlahnya = 9 ( 1+8=9, 2+7=9 , 3+6=9 )!

Sementara komplemen 10 didapat dengan menambahkan 1 pada komplemen 9, berarti 876+1=877!

Pengurangan desimal dapat dilaksanakan dengan penjumlahan komplemen sembilan plus satu, atau penjumlahan dari komplemen sepuluh!

893             893                      893

321             678 (komp. 9)        679 (komp. 10)

—- –            —- +                    —- +

572           1571                   1572

1

—- +

572  à angka 1 dihilangkan!

Analogi yang bisa diambil dari perhitungan komplemen di atas adalah, komplemen satu dari bilangan biner diperoleh dengan jalan mengurangkan masing-masing digit biner tersebut ke bilangan 1, atau dengan bahasa sederhananya mengubah masing-masing 0 menjadi 1 atau sebaliknya mengubah masing-masing 1 menjadi 0. Sedangkan komplemen dua adalah satu plus satu. Perhatikan Contoh .!

Bilangan Biner             110011      101010      011100

Komplemen Satu         001100      010101      100011

Komplemen Dua         001101      010110      100100

Pengurangan biner 110001 – 1010 akan kita telaah pada contoh di bawah ini!

110001                110001                110001

001010                110101                110110

——— –                ——— +               ——— +

100111                100111            1100111

dihilangkan!

Alasan teoritis mengapa cara komplemen ini dilakukan, dapat dijelaskan dengan memperhatikan sebuah speedometer mobil/motor dengan empat digit sedang membaca nol!

Sistem Oktal dan Heksa Desimal

Bilangan oktal adalah bilangan dasar 8, sedangkan bilangan heksadesimal atau sering disingkat menjadi heks. ini adalah bilangan berbasis 16. Karena oktal dan heks ini merupakan pangkat dari dua, maka mereka memiliki hubungan yang sangat erat. oktal dan heksadesimal berkaitan dengan prinsip biner!

1. Ubahlah bilangan oktal 63058 menjadi bilangan biner !

6       3       0       5                 à oktal

110   011   000   101             à biner

Note:

  • Masing-masing digit oktal diganti dengan ekivalens 3 bit (biner)
  • Untuk lebih jelasnya lihat tabel Digit Oktal di bawah!

2. Ubahlah bilangan heks 5D9316 menjadi bilangan biner !

heks   à biner

5       à 0101

D       à 1101

9       à 1001

3       à 0011

Note:

  • Jadi bilangan biner untuk heks 5D9316 adalah 0101110110010011
  • Untuk lebih jelasnya lihat tabel Digit Heksadesimal di bawah!

3. Ubahlah bilangan biner 1010100001101 menjadi bilangan oktal !

001   010   100   001   101             à biner

3       2       4       1       5                 à oktal

Note:

  • Kelompokkan bilangan biner yang bersangkutan menjadi 3-bit mulai dari kanan!

4. Ubahlah bilangan biner 101101011011001011 menjadi bilangan heks !

0010          1101          0110          1100          1011 à biner

2                 D                6                 C                B       à heks


Tabel Digit Oktal

Digit Oktal

Ekivalens 3-Bit

0

000

1

001

2

010

3

011

4

100

5

101

6

110

7

111

 Tabel Digit Heksadesimal

Digit Desimal

Ekivalens 4-Bit

0

0000

1

0001

2

0010

3

0011

4

0100

5

0101

6

0110

7

0111

8

1000

9

1001

A (10)

1010

B (11)

1011

C (12)

1100

D (13)

1101

E (14)

1110

F (15)

1111

 

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2012 in Kuliah